Semenjak saya mengenal puisi di bangku sekolah, definisi puisi di dalam otak saya adalah rangkaian kata-kata yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk baris dan bait, yang sebisa mungkin keliatan mewah dan rumit.

Mewah dan rumit. Karena puisi (di dalam kepala saya) tidak mungkin menggunakan kata-kata sembarangan. Sebisa mungkin berupa pilihan terbaik dari seluruh kosakata yang mewakili maksud pembuat puisi tersebut. Rumit, karena pada akhirnya sebuah puisi akan sulit untuk dipahami, bisa disalahpahami atau bahkan sama sekali tidak dipahami.

Read More

Sepanjang ingatan saya, kata gombal itu sudah sedemikian jauhnya mengalami perubahan makna. Saya mengenal kata “gombal” pertama kali dari ayah saya. Gombal, bagi ayah saya kala itu digunakan untuk menyebut kain sisa, kain perca atau kain bekas baju atau handuk yang sudah tidak dipakai lagi sesuai fungsi aslinya.

Akan tetapi meski telah kehilangan fungsi aslinya, seperti baju yang tak layak lagi dipakai, kain gombal tidak lantas menjadi tidak berguna. Justru ketika kehilangan fungsi aslinya, kain gombal bermetamorfosis menjadi benda dengan lebih banyak manfaat.

Read More

Pernahkah tiba di satu titik dimana sampeyan merasa bahwa sebenarnya sampeyan bukanlah manusia? Oke, itu mungkin terlalu jauh. Tapi ijinkan saya menjelaskannya dalam tulisan kali ini tentang apa yang saya sedang rasakan.

Ada situasi dimana saya merasa telah melakukan sesuatu secara benar dan sesuai kebiasaan yang seharusnya, tapi pada satu titik tertentu itu tidaklah juga cukup. Ada yang kurang, ada yang kurang pas, ada yang sedikit melenceng dari sudut pandang orang lain.

Read More

Senja ini langit mendung, tapi tak juga hujan. Saya sembari menunggu maghrib menjelang, nangkring di sebuah warung angkringan di daerah kampus terbesar di kota ini. Minuman hangat dan hidangan sederhana nan menggoda, serta akses wifi gratisan cukup membuat saya jatuh cinta.

Tentu saya mau ikutan membahas tahun baru yang sebentar lagi menjelang. Hitungan jam. Di kantor saja perbincangan mengenai tahun baru dan rencana mereka untuk merayakannya sudah jauh-jauh hari diperbincangkan.

Read More

Pernah sampeyan ngomong ndremimil panjang lebar kali tinggi, ngalor ngidul ngetan mbalik ngulon, kesana-kemari dengan penuh berapi-api untuk lalu merasa masygul bin kecewa dengan lawan bicara karena dia hanya merespon dengan satu kata, yaitu “oh”?

Mangkelke, alias menyebalkan. Lebih-lebih ketika kita sebagai komunikator mengharapkan respon dari komunikan secara komprehensif. Bahkan dengan jawaban “oh” tadi, kita jadi berpikir bahwa nak usahlah setuju dengan apa yang kita sampaikan, membantah dan atau ndak sepakat saja masih bisa kita terima asalkan direspon secara komprehensif. Dan bukan cuman “oh”.

Read More

Minggu depan, kantor tempat saya nitip awak golek upa akan mengadakan acara perpisahan bagi kawan-kawan yang terkena mutasi ke kantor lain. Mutasi adalah hal yang lumrah dan jamak terjadi di instansi saya, mengingat kantor instansi saya itu tersebar di seluruh nusantara, meski secara jumlah masih kalah dengan minimarket yang juga berlambang lebah itu.

Nah, karena mutasi bukan hal yang aneh, maka acara perpisahan macam begitu tentu bukan baru sekali dua kali dilaksanakan, tapi berkali-kali. Rutin. Dan sebagaimana halnya dengan hal-hal rutin lain, acara perpisahan ini rupa-rupanya dianggap membosankan dalam hal formalitasnya.

Read More

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.